Kegaduhan Olimpiade Matematika Bojonegoro: Ribuan Anak Panik, Acara Edukatif Berubah Jadi Kekacauan

82 views ⏱ 3 menit
Kegaduhan Olimpiade Matematika Bojonegoro: Ribuan Anak Panik, Acara Edukatif Berubah Jadi Kekacauan

Sebuah acara yang seharusnya menjadi ajang prestasi dan pembelajaran berubah menjadi momen penuh kepanikan di Gedung Serbaguna Bojonegoro, Minggu (7/12). Olimpiade matematika tingkat SD/MI yang diikuti ribuan peserta berakhir dengan kericuhan massal setelah ratusan orang tua memaksa masuk ke dalam gedung.

Insiden ini bermula ketika sejumlah wali murid memprotes dugaan ketidakadilan dalam proses penjurian. Ketegangan yang sudah memuncak kemudian meledak menjadi kekacauan saat orang tua peserta secara massal merangsek masuk ke area kompetisi. Ribuan anak-anak yang sedang mengikuti lomba langsung panik dan bingung mencari orang tuanya di tengah kerumunan yang tidak terkendali.

Para guru dan panitia yang hadir di lokasi pun ikut kebingungan melihat peserta kecil berhamburan di dalam ruangan. Situasi semakin memburuk hingga akhirnya pihak kepolisian dari Polsek Bojonegoro Kota harus turun tangan untuk menenangkan massa yang memenuhi gedung.

AKP Agus Fauzi dari Polsek Bojonegoro Kota menjelaskan bahwa petugas langsung mengambil langkah tegas untuk menghentikan seluruh sesi lomba demi keselamatan bersama. "Untuk sementara kita tenangkan para peserta dan orang tua. Kegiatan yang mestinya berlangsung beberapa sesi kita hentikan dulu karena ada kejadian ini," tegasnya.

Panitia penyelenggara dari Saryta Management kemudian dibawa ke Polsek untuk dimintai keterangan terkait insiden tersebut. Sementara itu, dua sesi lomba berikutnya (level 2 dan level 3) terpaksa dibatalkan karena situasi yang tidak memungkinkan untuk melanjutkan kompetisi.

Sejumlah orang tua peserta mengungkapkan kekecewaannya terhadap panitia yang dinilai kurang profesional dalam mengelola acara dengan skala besar. Salah satu wali murid, HG, menyatakan bahwa panitia sepertinya hanya berorientasi bisnis tanpa mempersiapkan manajemen yang memadai.

"Panitia kayaknya tidak profesional, sepertinya hanya bisnis. Kondisi sepertinya kok malah dilepas. Peserta ribuan kok model pelaksanaannya hanya begini, padahal bayar per peserta Rp 55 ribu," ujarnya dengan nada kecewa.

Setiap peserta memang dikenakan biaya pendaftaran sebesar Rp 55.000, dan sebagian dana tersebut dialokasikan untuk sekolah yang bekerja sama. Namun, transparansi penggunaan dana ini menjadi sorotan dari wali murid yang mempertanyakan kualitas layanan yang diberikan.

Ketua panitia, Ita Puspitasari, mengakui bahwa jumlah peserta membengkak jauh melebihi perkiraan awal. Saat mengajukan perizinan ke kepolisian, panitia melaporkan jumlah peserta sekitar 1.000 orang. Namun, satu hari sebelum pelaksanaan, jumlah peserta tiba-tiba melonjak menjadi 2.000 anak.

Lonjakan peserta ini membuat persiapan lapangan dan pengawasan menjadi tidak sebanding dengan jumlah peserta yang hadir. Manajemen lokasi pun menjadi tidak terkendali, yang akhirnya berkontribusi pada terjadinya kericuhan.

Menurut Ita, acara sebenarnya sudah berjalan lancar hingga level 1 selesai dan sedang dalam tahap penyerahan hadiah. Namun, tiba-tiba dua wali murid masuk dari pintu samping dan memicu peserta lain ikut masuk, sehingga kericuhan tidak terhindarkan.

Wakil Bupati Bojonegoro, Nurul Azizah, menilai panitia tidak melakukan koordinasi dengan Dinas Pendidikan maupun Kementerian Agama setempat. Ia menegaskan bahwa panitia jelas bersalah dan wajib bertanggung jawab atas kekacauan serta uang peserta yang sudah masuk.

"Karena adanya aduan masyarakat tentunya ini harus segera ada solusi secara cepat. Apa pun panitia jelas salah. Karena tidak koordinasi dengan dinas pendidikan (Dindik) maupun Kemenag yang mempunyai fungsi dalam pendidikan di tingkat sekolah dasar dan MI," katanya.

Pemerintah daerah akan mengumpulkan pihak terkait karena masih ada lebih dari 1.300 peserta yang belum mengikuti lomba. Panitia berencana melakukan koordinasi ulang dengan sekolah untuk menentukan langkah ke depan, termasuk opsi pengembalian biaya atau penyelenggaraan ulang per kecamatan.

Insiden ini menjadi pelajaran penting tentang pentingnya koordinasi dan persiapan matang dalam menyelenggarakan acara pendidikan berskala besar. Sebuah ajang yang seharusnya membangun semangat belajar justru berakhir dengan trauma bagi ribuan anak-anak dan kekecewaan bagi para orang tua.

Bagikan

Artikel Terkait

💬 Komentar (0)

Tulis Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!