Viral! Daffa Ardian Pratama, Bocah SD Jenius Asal Bojonegoro Terampil Elektronik

107 views ⏱ 3 menit
Daffa Ardian Pratama
Daffa Ardian Pratama

BOJONEGORO - Jagat media sosial berdecak kagum melihat aksi seorang bocah yang mampu menjelaskan kompleksitas perangkat keras (hardware) komputer dan elektronik dengan sangat fasih. Ia adalah Daffa Ardian Pratama, bocah bersuara lantang yang dijuluki netizen sebagai "calon teknisi masa depan" hingga "penerus B.J. Habibie".

Daffa, putra sulung dari pasangan Andik Sujianto dan Lusy Ardiana yang baru menginjak usia 8 tahun (duduk di bangku kelas 3 SD), merupakan warga Desa Growok, Kecamatan Dander, Kabupaten Bojonegoro. Namanya viral usai sebuah video yang diunggah sang ayah di Facebook memperlihatkan dirinya tengah membongkar dan menjelaskan fakta ilmiah mengenai kandungan emas pada sebuah prosesor komputer.

Viral Membongkar Rahasia "Emas" di Prosesor

Dalam video yang beredar luas, Daffa menjelaskan dengan detail bahwa prosesor memang memiliki komponen berbahan emas. Namun dengan cerdas ia menerangkan bahwa emas tersebut bukanlah bahan utama, melainkan hanya pelapis di bagian kaki-kaki atau konektor.

Hal ini terbukti secara ilmiah. Emas digunakan karena sifat resistansinya yang luar biasa terhadap karat (oksidasi) dan kemampuannya menghantarkan listrik dengan stabil. Sementara bahan inti dari prosesor tetaplah silikon dan tembaga. Pemahaman di luar nalar untuk anak usia 8 tahun inilah yang membuat publik terkesima.

Merakit Robot Otomatis Hingga Dimmer

Bakat Daffa sebenarnya tak hanya sekadar teori. Sang ayah, Andik Sujianto menuturkan bahwa Daffa sudah memiliki ketertarikan tinggi terhadap mesin sejak usia 3 tahun. Berbekal tutorial dari internet secara otodidak, Daffa telah menciptakan dan memperbaiki banyak alat elektronik.

"Dia sudah sangat hafal untuk memperbaiki kipas angin, bahkan bisa menganalisis letak kerusakannya secara langsung," ungkap Andik.

Tak hanya memperbaiki, Daffa juga berinovasi. Ia diketahui pernah membuat dimmer (pengatur tegangan listrik untuk menaik-turunkan kecepatan dinamo) hingga merakit alat sapu otomatis mirip robot pembersih. Semua komponen dan peralatannya difasilitasi oleh sang ayah dan dirakit oleh Daffa sendiri.

Sempat Dikhawatirkan Orang Tua, Ternyata Jenius

Tingkat keingintahuan yang amat canggih ini pada awalnya justru sempat membuat Andik dan Lusy khawatir. Daffa dinilai mampunyai pemikiran kritis yang terkadang membuatnya kesulitan berada di "frekuensi" yang sama dengan teman sebayanya. Belum lagi pengakuan Daffa bahwa dirinya terkadang merasa bosan di sekolah karena pelajaran yang ia anggap terlalu mudah.

Kekhawatiran itu membawa mereka memeriksakan kondisi Daffa ke dokter spesialis. Hasilnya sungguh mengejutkan sekaligus melegakan. "Dokter menyampaikan hasil tes menunjukkan bahwa Daffa tergolong anak jenius, bukan autis," ujar Andik.

Butuh Dukungan dan Ruang Eksplorasi

Meski memiliki Intelligence Quotient yang istimewa dan jiwa sosial yang dikabarkan sangat baik, bakat Daffa ibarat pedang bermata dua jika tak disalurkan dengan tepat. Sang ayah menyadari bahwa Daffa sangat membutuhkan arahan dari pihak yang kompeten agar kemampuannya kelak bisa mengharumkan bangsa Indonesia.

Fenomena Daffa Ardian Pratama ini menjadi tamparan positif bagi dunia pendidikan, membuktikan bahwa di era digital saat ini, proses belajar sains bisa datang dari eksplorasi tanpa batas. Dukungan secara moril dan akademis sangat diperlukan agar "Sang Jenius dari Bojonegoro" ini tidak kehilangan potensinya dan terus berkarya di jalur yang benar.

Bagikan

Artikel Terkait

💬 Komentar (0)

Tulis Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!