Bojonegoro akan menjadi pusat pengembangan industri bioetanol dengan rencana pembangunan dua pabrik oleh investor berbeda. Total investasi untuk kedua proyek ini mencapai Rp 22,8 triliun, menjadikannya salah satu investasi terbesar di sektor energi terbarukan di Indonesia.
Pabrik pertama akan dibangun oleh PT Butonas Petrochemical Indonesia di kawasan hutan RPH Sawitrejo, Desa Bandungrejo, Kecamatan Ngasem. Perhutani KPH Bojonegoro telah menyiapkan lahan seluas 5.130 hektar untuk proyek ini, dengan rincian 130 hektar untuk lokasi pabrik dan 5.000 hektar untuk penanaman bahan baku sorgum. Pabrik ini direncanakan menggunakan sorgum sebagai bahan baku utama dan akan beroperasi di samping fasilitas pemrosesan gas Jambaran-Tiung Biru.
Pabrik kedua akan dibangun oleh Japan International Cooperation Agency di Desa Katur, Kecamatan Gayam. Perusahaan asal Jepang ini akan menggunakan jagung sebagai bahan baku dan membutuhkan lahan sekitar 1.400 hektar. Menurut Administratur Perhutani KPH Bojonegoro, Slamet Juwanto, kapasitas pabrik di Gayam lebih besar dibandingkan yang di Ngasem.
Pemerintah melalui Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral telah mengalokasikan pasokan gas sebesar 110 MMBTU untuk mendukung operasional pabrik bioetanol di Bojonegoro. Alokasi ini menunjukkan komitmen pemerintah dalam mempercepat implementasi proyek yang diharapkan dapat mendukung program mandatori biodiesel dan mengurangi ketergantungan impor metanol.
Pembangunan pabrik bioetanol-metanol di Bojonegoro direncanakan dimulai pada tahun 2027. Sekretaris Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu Bojonegoro, Joko Tri Cahyono, menyatakan bahwa semua persiapan sudah dilakukan dan tinggal menunggu izin pelepasan kawasan hutan dari Kementerian Kehutanan dan Lingkungan Hidup.
Namun, izin tersebut diperkirakan akan tertunda menyusul bencana alam yang terjadi di Aceh dan Sumatera yang ditengarai akibat kerusakan hutan. Ketua Ademos, A. Shodiqurrosyad, menyatakan bahwa Kementerian Kehutanan dan Lingkungan Hidup akan lebih berhati-hati dalam mengeluarkan izin pemakaian kawasan hutan setelah peristiwa tersebut.
Sementara itu, Direktur IDFoS Indonesia, Joko Hadi Purnomo, memiliki pandangan berbeda. Menurutnya, hutan produksi di Bojonegoro berbeda dengan hutan lindung di luar Jawa, sehingga dampak lingkungannya dapat dikelola dengan baik. Namun, dia mengingatkan bahwa bahan baku yang digunakan sebaiknya tidak menggunakan jagung karena akan terjadi persaingan pasar dan bisa mengganggu kebutuhan pakan ayam program gerakan ayam petelur mandiri yang sedang dijalankan Pemerintah Kabupaten Bojonegoro.
Kepala Desa Katur, Sukono, menyatakan kesiapan pemerintah desa untuk menyambut pembangunan pabrik bioetanol oleh PT JICA. Pemerintah Desa Katur siap menyediakan lahan pribadi untuk pembangunan pabrik seluas 8-10 hektar jika diperlukan. Harapannya, pembangunan pabrik ini dapat menciptakan peluang kerja dan usaha bagi warga Gayam, khususnya Desa Katur, mengingat setelah proyek Banyu Urip dan Gas JTB selesai, banyak warga yang menganggur.
Pembangunan dua pabrik bioetanol di Bojonegoro merupakan langkah strategis dalam upaya Indonesia mencapai kemandirian energi. Dengan investasi sebesar Rp 22,8 triliun, proyek ini tidak hanya akan menciptakan lapangan kerja baru tetapi juga mengurangi ketergantungan impor bahan bakar yang selama ini menjadi beban devisa negara. Keberhasilan proyek ini akan menjadi contoh bagi pengembangan industri energi terbarukan di daerah lain di Indonesia.
