Solusi Macet Tengah Kota: Proyek Jalan Lingkar Selatan (JLS) Bojonegoro 37 Km Ditarget Mulai 2027
BOJONEGORO – Menghadapi semakin padatnya volume kendaraan yang melintas di jantung kota, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bojonegoro kini tengah mematangkan megaproyek infrastruktur berupa pembangunan Jalan Lingkar Selatan (JLS). Membentang sepanjang kurang lebih 37 kilometer, proyek pendorong roda ekonomi daerah ini ditargetkan mulai memasuki tahap konstruksi fisik secara bertahap pada tahun 2027.
Mengurai Kebuntuan Lalu Lintas Tengah Kota
Realisasi JLS dipandang sangat esensial mengingat tingkat kepadatan di ruas-ruas jalan utama perkotaan Bojonegoro—meliputi Jalan Ahmad Yani, Gadjah Mada, Untung Suropati, hingga Rajekwesi—saat ini sudah sangat sesak (overload). Kemacetan harian tersebut diakumulasikan akibat percampuran arus komuter lokal dengan kendaraan bertonase besar antarprovinsi yang datang dari arah Surabaya maupun Ngawi.
Berdasarkan kajian Dinas Perhubungan setempat, rasio kepadatan volume jalan berbanding kapasitasnya (V/C ratio) di jalan-jalan protokol kota kini telah menyentuh angka jenuh: lebih dari 0,9. Alhasil, implikasi langsung yang sangat terasa adalah laju kecepatan kendaraan tertahan secara signifikan di batas kisaran 20 kilometer per jam.
Spesifikasi Mumpuni: Dua Jalur Lebar dan Dua Titik Flyover
Pemerintah Daerah tidak setengah-setengah menggarap proyek yang telah masuk dalam prioritas Rencana Kerja Pembangunan Daerah (RKPD) 2027 serta Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) 2025–2029 tersebut. Sekretaris Daerah (Sekda) Bojonegoro, Edi Susanto, mengonfirmasi bahwa kesiapan pra-konstruksi saat ini sudah sangat maju.
"Kami sudah merampungkan feasibility study (studi kelayakan) beserta susunan detail design (DD) lewat Dinas Pekerjaan Umum Bina Marga. Ini berarti kita telah memiliki gambaran spesifikasi material, dan estimasi biaya konstruksi yang akurat sebelum turun ke perancangan dokumen spesifik teknis pada 2027 nanti," tegas Edi saat mengevaluasi RKPD 2027 dalam Musrenbang tingkat Kabupaten.
Nantinya, rancangan JLS akan mengadopsi rute selatan kota. Membujur membelah lima wilayah dari barat ke timur, dimulai dari Desa Ngujo di Kecamatan Kalitidu, melintasi Desa Ngumpakdalem di Kecamatan Dander, hingga rentetan Desa Bangilan, Tapelan, Tanjungharjo, lalu berakhir di Kedaton atau simpang Proliman di Kecamatan Kapas.
Demi menjaga kelancaran lalu lalang angkutan berat yang melintasi Bojonegoro tanpa tersendat oleh jadwal melintas kereta api (KA), pemerintah juga memproyeksikan dua infrastruktur jalan layang (flyover) perlintasan rel KA pada gerbang masuk Ngujo dan gerbang keluar Proliman.
Mengenai spesifikasi jalurnya sendiri, ring road ini akan berkonsep jalan berjalur ganda. Setiap lajurnya didesain seluas 8 meter dan diekuiapkan dengan ruang pedesterian yang ramah di lajur sisi kanan maupun kiri. Adapun skema pembebasan lahan secara matang akan dikaji menyusuri titik trase jalan baru ini.
Bukan Sekadar Jalan Alternatif
Selain mengeliminasi penumpukan lalu lintas pada jalur protokol di tengah kota, kehadiran JLS Bojonegoro sangat diharapkan berfungsi sebagai katalis pemerataan kegiatan ekonomi. Dibukanya titik strategis lalu lintas baru ini tidak diragukan akan menumbuhkan embrio lokasi komersial baru (aglomerasi bisnis), sehingga ritme ekonomi Bojonegoro tidak selamanya akan memusat ke lingkaran dalam perkotaan.
Pemkab Bojonegoro Bentuk BRIDA: Jadi Motor Penggerak Kebijakan Berbasis Riset dan Inovasi
CCTV Bojonegoro Pemantauan Lalu Lintas : Lokasi dan Fungsinya
Resmi! M. Choirul Huda Ditetapkan Jadi Dirut Perumda Bojonegoro Pangan Mandiri, Di-support Modal Rp 25 Miliar
💬 Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!